kata ini amat mengganggu saya akhir-akhir. saya sedang berpikir, apakah saya -selama ini- sudah begitu sombong berjalan di atas bumi ciptaan-Nya?
saya ingat kembali ke masa lalu saya, dimana saya merasa tak ada hal yang cukup bisa membuat saya merasa terganggu atau susah. semuanya serba mudah saya dapatkan. segala urusan saya lancar, hidup saya seperti mulus.
tapi makin tua (padahal umur masih 21), saya merasa kalau jalan saya mulai gak mulus. apa maksudnya “jalan saya”?
sebelumnya, yang saya rasakan hanyalah rasa senang, nyaman. tawa selalu mewarnai hari-hari saya. saya merasa gak ada beban sama sekali. dan saya merasa semuanya mengalir begitu saja.
sekarang, mungkin Dia ingin melihat saya dewasa. dewasa dalam berbagai hal tentunya.
salah satu yang saya rasa berat untuk saya serap dan mengerti adalah tentang KEHILANGAN. saya merasa Dia ingin menempa diri saya, untuk merasa bagaimana sakitnya hati saat kehilangan sesuatu, bagaimana senangnya saya saat merasa saya menemukan obat, dan bagaimana saya merasakan betapa indahnya harapan setelah derita. semua itu telah saya rasakan. hanya saja ada satu hal yang tertinggal, dan itu terlambat untuk saya sadari.
saya belum merasakan bagaimana rasa pasrah yang seharusnya.
kemarin saya menemukan sebuah buku, saya buka salah satu halamannya dan disana tertera sebuah tulisan, yaitu BERSERAH DIRI. disana ditulis, berserah diri merupakan suatu sikap menyerahkan semuanya kepada Dia, karena Dia yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk umat-Nya. di sana juga ditulis, bahwa berserah diri kiranya tidak hanya dilakukan pada saat kita sedang berada di kondisi terbawah, tetapi juga di saat kondisi terbaik sekalipun.
itu semua karena tak ada yang abadi. saya tersentak membacanya.
hhhm, saya telah banyak merasakan kehilangan. namun ada dua kehilangan yang saya soroti.
saya pernah kehilangan yang pertama. saat itu, saya merasa dunia saya kelabu. tak ada yang bisa membangkitkan saya. saya sempat benci dengan pagi hari, karena pagi merupakan waktu saya untuk memulai aktivitas. dan saya merasa tak punya tenaga untuk itu. saya sempat berpikir macam-macam seperti orang gila. teman saya merasa diri saya sempat hilang. saya kehilangan orientasi arah. itu salah satu masa terkelam yang saya punya, dan Alhamdulillah saya berhasil melewatinya.
dalam kehilangan yang pertama ini, saya dapat melewatinya karena saya menyadari sesuatu. saya memang harus kehilangannya. kalau dipikir lagi, itu semua bukan salah saya atau salah orang lain. ditambah dengan sebuah kenyataan bahwa teman saya tidak akan meninggalkan saya dalam keadaan begitu, membuat saya bisa kembali maju, berani melihat ke depan.
dan saat itu, saya menyadari betapa indah dan pentingnya HARAPAN.
uhm, kehilangan yang kedua. kali ini berbeda. saya mendapatkannya dengan tidak sengaja. saya bahagia mendapatkannya. maksud saya, SANGAT BAHAGIA. saya tidak pernah sebahagia itu. orang lain bisa merasakan energi saya. energi positif saya. saya pun merasa adanya perubahan positif dalam diri saya. saat itu, yang hanya saya pikirkan adalah bagaimana saya menikmati detik-detik memilikinya. sampai suatu saat, saya melakukan kesalahan. keadaan menjadi memburuk dan keadaanlah yang memaksa saya untuk kehilangannya. semuanya berlangsung cepat dan tiba-tiba.
dalam kehilangan yang kedua ini, saya patah hati. benar-benar patah hati. namun hati saya patah bukan karena saya kehilangannya. tetapi karena saya menangisi diri saya sendiri. saya tidak bisa menjaganya untuk tetap bersama saya dan saya menyadari sesuatu yang sama sekali tidak saya pelajari di kehilangan saya yang pertama.
PASRAH
di saat saya bahagia itu, saya sama sekali tidak berpikir bahwa saya akan kehilangannya suatu hari nanti. saya terus berpikir bahwa dia akan bisa selalu saya miliki, semuanya akan berjalan seperti biasa. tidak ada terlintas sedikitpun di benak saya bahwa saya akan merasakan kesedihan seperti ini lagi.
hhmph… saya merasa buruk sekarang.
pernah saya duduk di bumi sipil. memandangi rumputnya, pohonnya, langit yang menaunginya, dan matahari. saya hanya menikmati keindahannya. padahal saya bisa mengambil hal lain. betapa kecilnya saya. saya benar-benar tak berdaya di hadapan-Nya. dan saya baru menyadarinya saat saya menulis ini sekarang!
pasrah. tidak hanya dilakukan saat kita tenggelam dalam kegelapan yang menggelayuti kita, tetapi juga saat kita sedang bersinar seperti matahari. segala hal yang ada hanyalah titipan.
(huff… mendadak saya menjadi emosional)
pasrah. itu yang sedang saya lakukan sekarang. mungkin ada penyesalan dan pengandaian yang muncul dalam diri saya. itu semua saya coba tepis. dengan keyakinan dan kepercayaan bahwa rencana-Nya akan sangat indah. satu hal yang saya syukuri adalah saya tidak kehilangan perubahan positif saya sepeninggal kehilangan kedua saya. dan itu membuat saya lebih kuat dan lebih baik mengatasinya.
mungkin saya belum sempurna mengamalkan ilmu kepasrahan ini. saya masih merasa setan kadang menguasai saya. setan tidak mau saya pasrah. hati saya diajak untuk menolak apa yang telah digariskan.
yang bisa saya lakukan adalah menjaga keyakinan akanNya dan melakukan yang terbaik. karena saya ingin merasakan kembali indahnya harapan.
…jaga aku, Ya Allah, agar aku tidak berpaling lagi dariMu…
0 Responses to “kepasrahan”