11
May
10

ketidaklulusan ujian nasional: sebuah cermin pendidikan

hari ini, saya terlibat pembicaraan yang menarik dengan ayah saya. kalo sama ayah saya, yang diomongin tentang berita-berita yang ada di TV. kalau saya perhatikan sih, ayah saya paling miris kalo denger soal ketidaklulusan siswa-siswa yang gak lulus ujian nasional.

ayah saya berkesimpulan kalo hal ini terjadi karena belajarnya gak bener. gak ada nempel ilmu pengetahuan di kepala siswa-siswa yang gak lulus itu. apalagi denger kabar kalo ada satu sekolah yang 100% tidak lulus karena siswa-siswanya ngikutin kunci jawaban palsu yang beredar di antara mereka.

well, segitu parahnya kah?

ayah saya cuman bisa geleng-geleng kepala. gak habis pikir beliau, kenapa mau aja proses belajar selama sekolah gak melekat di mereka yang mempercayakan jawaban ujian palsu itu? dan saya jadi mikir. kenapa ya? beberapa tahun terakhir ada aja berita tentang ketidaklulusan ujian nasional? padahal perasaan pas jaman kita (ujian SMP dan SMA), gak heboh heboh amat kayak sekarang.

saya jadi bertanya, apa sih esensi pendidikan?

menurut saya sih, pendidikan itu adalah suatu proses yang bertujuan untuk meningkatkan derajat hidup kita. gak cuman hanya dalam mencari pendapatan, tapi pendidikan juga berperan dalam pembentukan pola pikir yang akan berimbas kepada bagaimana cara hidup kita di masa yang akan datang.

inget lho ya? proses.

tapi kok sekarang saya ngeliat kecenderungan kalo masyarakat lebih mengganggap hasil akhir daripada prosesnya ya? dan yang parahnya, gak cuman masyarakat aja. siswa, orang tua, bahkan guru pun terkena mind set itu.

gak heran kalo ada kasus kecurangan terorganisir yang dilakukan oleh pendidik yang menjadi ujung tombak dari pendidikan. gak heran juga kalo sekarang siswa yang gak percaya diri mudah kecemplung ama kunci jawaban palsu.

siapa yang salah?

pertama, kalo boleh nyalahin sih, saya nyalahin keadaan sosial kita.
setuju kan kalo orang lebih mandang siswa dengan nilai yang tinggi dibanding dengan siswa yang nilainya biasa aja? bahkan, saya mengambil kesimpulan kalo paradigma masyarakat kalo orang pintar dianggap berlian dan orang bodoh itu dianggap sampah.

orang pintar yang diagung-agungkan juga dilakukan oleh media. di acara berita diperkenalkan seorang siswa dengan nilai rata-rata UAN 9koma sekian. apalagi media sekarang sangat berlebihan (mirip infotainment!). jatohnya gak memotivasi kalo menurut saya, kayak menjual kesuksesan aja. saya rasa, keadaan sosial aja udah gak mendukung.

maka dari itu, kebanyakan orang berlomba-lomba untuk mendapat nilai setinggi-tingginya. bagus sih kalo usahanya juga bener (belajar lebih keras), tapi ada juga kan usaha yang gak bener (menyontek atau bikin contekan). tinggal tergantung pribadi masing-masing sih.

yang kedua, lembaga pendidikan gagal menyampaikan arti pendidikan.
saya menyoroti guru. bukan berarti saya mengecilkan mereka, cuman kayaknya guru-guru yang ada sekarang lebih didominasi oleh orang-orang yang gak ngerti esensi pendidikan tuh apa. menurut saya sih, ngajar itu pengabdian. bukan kayak kerja kantoran. gak sekedar ngasih materi pelajaran dan ngasih ulangan dan nilai aja. guru juga harus memberikan kesadaran sama siswanya kalo materi pelajaran yang dikasih itu penting buat kehidupan mereka nantinya.selain itu, guru harus ngebentuk mental siswanya kalo evaluasi (ulangan) tuh penting buat ngukur kemampuan diri, bukan hanya formalitas semata. kalo siswa dikasih tahu gitu, gak ada deh yang namanya nyontek. pendidikan gak cuman nilai 0-10 doang, itu hanya cerminan. yang penting, siswa ngerti gambaran materinya atau gak.

tambahan, menurut saya, yang ada sekarang, hampir semua orang berorientasi sama uang dan keuntungannya sendiri. gak heran kalo banyak orang bekerja tanpa hati, termasuk guru. itu kenapa pendidikan gagal disampaikan.

yang ketiga, saya menyalahkan sistem pendidikan yang membiarkan semuanya terjadi.  gap kualitas yang tajam perbedaannya, gap fasilitas antara sekolah di kota besar dan kota kecil, biaya yang kadang gak visible, sumber daya pendidik yang kurang dimanage dengan baik dan kurang persebarannya, gaji guru yang menyebabkan guru menjadi pekerjaan kelas 2 di negara kita, belum kalo ada oknum-oknum yang bertindak korup di bidang pendidikan.

dan dari semua itu, siapa yang jadi korban?
siswa sendiri. mereka gak mendapat hak mereka, penyamarataan pendidikan. mereka dirundung rasa rendah diri karena mereka takut tidak lulus. istilahnya, kalah sebelum berperang. mereka juga terombang ambing pada sistem, yang sebenernya gak memfasilitasi mereka secara maksimal. yang gak meberikan kesempatan buat mereka untuk belajar dengan etos daya juang yang tinggi.

dan untuk skala besar, negara bisa menjadi korban. generasi muda yang dibina dengan sistem yang bobrok seperti ini akan menjadi penggerak negara suatu saat nanti. bayangkan, kalo generasi tersebut tidak terdidik dengan sistem yang baik? saya seram membayangkannya.

saya sih pengen, semua anak sekolah di Indonesia, mempunyai riwayat pendidikan yang lancar. dan itu baru terjadi kalo seluruh lapisan masyarakat mengerti kalau pendidikan itu gak sekadar nilai. pendidikan itu sebagai pembelajaran yang menjadi bekal penting di masa depan.


0 Responses to “ketidaklulusan ujian nasional: sebuah cermin pendidikan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


rhonita dea andarini

already 21 years old! want to be a civil engineer. still learning some SNAPs in my life. thinking about move on without regret. enjoying writing very much!

 

May 2010
M T W T F S S
« Jan    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

how many visits?

  • 9,219 visits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.